fbpx

MENYIKAPI KEKAYAAN

Bekasi (6/10/2023)- Kekayaan dalam Islam bukanlah sesuatu yang tercela atau terpuji. Ia termasuk ujian yang disenangi jiwa manusia, sebab fitrah manusia senang kepada harta benda, kuda-kuda yang mahal, dan juga kendaraan.

Oleh karena itu, Nabi Muhammad mengajarkan doa, “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu petunjuk dan ketakwaan, keluhuran budi dan kekayaan.” (HR Muslim). Kemudian, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, yang kaya (berkecukupan), dan yang tidak menampakkannya.” (HR Muslim).

Bahkan, Rasulullah menegaskan, “Bagus sekali harta yang baik bagi orang yang saleh.” (HR Ahmad). Demikianlah Islam memandang harta. Meski demikian, bukan berarti tidak ada yang perlu diwaspadai. Syekh Yusuf Qaradhawi menyebutkan, ada empat hal yang mesti diwaspadai dari harta atau kekayaan. 

Pertama, harta—meskipun tidak jelek—adalah fitnah yang menakutkan. “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan.” (QS at- Thagabun [64]: 15).

Kedua, kekayaan materi bukanlah segala-galanya. Adakalanya seseorang memiliki kekayaan bermiliar-miliar, tetapi hatinya miskin. “Kaya itu bukan karena banyaknya harta, tetapi kaya itu adalah kaya hati.” (HR Bukhari).

Ketiga, ketidakpahaman terhadap hakikat harta membuat banyak orang Islam berangan-angan dan berharap memiliki harta, bahkan dalam doa pun tidak sedikit yang berjanji akan berbuat begini dan begitu. Namun, kala telah berhasil, mereka lupa dengan janjinya. 

Keempat, jika tidak diwaspadai, harta akan menyuburkan sifat rakus di dalam hati dan pikiran hingga hilanglah akal dan adab di dalam dirinya karena begitu menggebugebunya keinginan memiliki dan mengumpulkan banyak harta.

Dengan demikian, kekayaan bagi setiap Muslim hendaknya dijadikan sebagai sarana untuk mendapatkan kebahagiaan sejati dan mewujudkan maslahat yang seluas-luasnya dalam kehidupan fana ini. Oleh karena itu, sedekah dalam Islam sangat dianjurkan.

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS an-Nisa [4]: 114).

Baca juga : Hikmah Jum’at : Perjanjian Hudaibiyah, Bukti Umat Muslim Cinta Damai Dan Taat Perjanjian.

Bahkan, mereka yang akan meninggal dunia memohon tenggat waktu agar bisa bersedekah. “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian) aku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS al-Munafiqun [63]: 10). Demikianlah kekayaan, bermanfaat jika disedekahkan dan menyiksa jika “dipertuhankan.”

Sumber : Artikel Ust. Ma’mun Salman

Simak video : Rahasia Rezki yang terus bertambah (Ust. Adi Hidayat)

Share :

Facebook
Telegram
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1000 siswa baru telah terdaftar !

Chat With Us
Chat With Us!
Assalamualikum!
How can I help you?